Movie Review: Waiting for Forever (2010)
Kalau orang bilang drama romantis itu paling sulit diberi review objektif, memang benar adanya. Sementara orang lain hobi bikin review tentang film klasik atau box office atau malah cult, saya bikin review drama romantis saja. Yang kadang-kadang, apalagi laki-laki, malu mengakui menyukainya.
Mereview drama romantis tidak akan membuatmu keren, tapi menontonnya, menikmatinya punya kepuasan tersendiri. Dibalik kata-kata romantis dan jalan cerita yang mudah tertebak, ada petualangan emosi yang nikmat luar biasa. Seperti film-film drama dari Korea. Atau Jepang. Tapi kita tidak bicara Eropa. Hollywood, sekali lagi, memang paling pintar bikin film yang laku dijual macam kacang goreng. Bisa dinikmati siapa saja.
Hari ini kita bicara Waiting for Forever. Film besutan ‘orang TV’ ini lumayan buat ditonton bersama pasangan tercinta (alah!), maksud saya ceritanya sungguh ringan tapi tetap menghibur. Coba tengok siapa yang James Keach pakai sebagai pemeran utama wanitanya, Rachel Bilson (Emma). Si cantik mungil ini memang yang bikin saya tonton film ini. Cast lain, saya kurang familiar, entah anda. Apalagi ketika menemukan beberapa cast yang sangat tidak cocok, termasuk si pemeran utama prianya, Tom Sturridge (Will). Apalagi kakaknya, duh, kurang dan kurang. Pantas di IMDB film ini dapat rating 6,1 saja.
Waiting for Forever adalah cerita tentang romantika Will yang jatuh cinta kepada teman semasa kecilnya, Emma. Klise dan sungguh bukan cerita hebat. Tapi ada satu hal yang bisa saya rasakan di sini, ada waktu untuk semuanya. Twistnya mudah ditebak, pun begitu dengan endingnya. Anda yang tidak menyukai film macam ini, saya sarankan untuk tidak mencoba menonton film ini. Saya hanya menghubung-hubungkannya dengan kehidupan pribadi saya, ada beberapa yang saya anggap menggambarkan apa yang ada di pikiran saya selama ini.
Apa saya bilang, reviewnya tidak akan objektif. Tapi ini dunia bebas.
