Review Bastard
Band of music and movie enthusiast. Music review, movie review. A place for us to have some fun and knowledge.
Bed Peace: Sebuah film tentang kampanye perdamaian dari John dan Yoko.
Dalam film ini, generasi kita dapat melihat bagaimana hausnya John Lennon dan Yoko Ono akan perdamaian. Berangkat dari imajinasi, serta keinginan kuat akan hal tersebut, John dan Yoko mungkin tidak berhasil dengan perdamaian secara instan, seperti kita ketahui bersama. Tapi semangatnya, mimpi-mimpi dan keinginan mereka, jelas sekali ada yang dapat kita ambil dari apa yang mereka lakukan puluhan tahun yang lalu.
War is over (if you want it)! -Yoko Ono
Bed Peace ditayangkan khusus hanya pada akhir pekan ini saja, di kanal YouTube Yoko Ono dan di Imagine Peace, juga dapat anda nikmati di sini:
Bersamanya, juga saya sertakan catatan rilis dari Yoko mengenai film ini.
Dear Friends,
In 1969, John and I were so naïve to think that doing the Bed-In would help change the world.
Well, it might have. But at the time, we didn’t know.It was good that we filmed it, though.
The film is powerful now.
What we said then could have been said now.In fact, there are things that we said then in the film, which may give some encouragement and inspiration to the activists of today. Good luck to us all.
Let’s remember WAR IS OVER if we want it.
It’s up to us, and nobody else.
John would have wanted to say that.Love, Yoko
Yoko Ono Lennon
London, UK
August 2011
Astonish Me, sebuah film pendek untuk perayaan 50 tahun WWF
Dalam perayaan 50 tahunnya, WWF mengajak penulis naskah Stephen Poliakoff dan sutradara Charles Sturridge untuk mengingatkan kita betapa banyak sekali yang belum kita ketahui tentang bagimana luas dan kayanya dunia yang kita tinggali ini. Astonish Me adalah sebuah film pendek yang indah, yang menceritakan tentang spesies-spesies baru yang luar biasa dan baru saja ditemukan dari berbagai penghujung dunia. Mengingatkan kita bahwa perjalanan kita masih jauh dan masih banyak keajaiban di luar sana yang belum kita temui.
Film yang kamu tentukan sendiri plotnya melalui Social Media.
Satu minggu dari sekarang sebuah film yang diklaim sebagai Social Film pertama akan diputar di US sana. Dipersembahkan oleh Toshiba dan Intel, film berjudul Inside ini menceritakan seorang gadis usia 24 tahun bernama Christina yang terkurung dalam sebuah kamar. Diperankan oleh Emmy Rossum, di depannya hanya ada sebuah laptop, dan hanya dengan itulah dia dapat keluar dari kamar tersebut. Kita dapat ikut membantu Christina, caranya?
Di situs remi Inside dijelaskan bahwa social film adalah sebuah genre baru dimana penonton dapat ikut ambil bagian dalam menentukan jalan cerita film tersebut secara real time, mereka juga menyebutkan bahwa penonton dapar berinteraksi dengan para karakter di film tersebut juga secara real time, sangat interaktif. Penonton, dijanjikan untuk dapat betul-betul ikut ambil bagian dalam film ini.
Membingungkan? Tentu saja, karena belum pernah ada yang menyajikan hal seperti itu sebelumnya. Sebagai awalan, beberapa orang dapat ikut serta dalam Social Casting Call untuk dijadikan cameo pada film terakhirnya. Yang anda perlukan hanya berakting di depan kamera sesuai dengan script yang mereka beri, upload ke YouTube, dan tunggu hasilnya.
Sepertinya si pembuat film akan memantau beberapa Social Media seperti Facebook, Twitter dan YouTube ketika film ini ditayangkan, dan mencocokan beberapa input pilihan dengan apa yang terjadi didalam film. Saya kira akan ada beberapa versi film sebelum keluar film terakhirnya (versi rampung). Tapi itu hanya perkiraan, serunya, kita lihat saja bagaimana dua bentuk kebudayaan modern (Social Media dan Film) ini berkolaborasi. Sebuah ide yang saya yakin sudah lama muncul dan tersimpan di benak para praktisi film maupun media sosial, dan memang brilian. Semoga penggarapannya tidak mengecewakan kita.
Untuk saat ini, silahkan menikmati trailernya:
Sepuluh film indie terbaik (yang pernah saya tonton)
Menurut Wikipedia, Film Indie adalah film yang dibuat bukan oleh studio besar, jenis film ini disebut juga sebagai sebuah film seni yang peredarannya tidak semassal film biasa. Karena diproduksi oleh studio-studio kecil, distribusinya juga tidak melalui distributor besar. Untuk dapat dikategorikan indie, sebuah film setidaknya lebih dari setengah biaya produksinya tidak dibiayai oleh studio besar. Menghabiskan biaya rendah, walaupun tidak selalu, pada umumnya adalah sebuah persembahan pribadi dari sang pembuat film dengan tema, cara pengambilan gambar, alur cerita, dan keperluan teknis lainnya persis seperti apa yang diinginkan. Tidak banyak bioskop yang memutarnya, bahkan kadang hanya screening untuk beberapa orang saja, hal ini tentu saja untuk mengejar (atau malah dampak) dari sifatnya yang mengakomodir selera-selera sekelompok orang tertentu saja.
Ada banyak sekali film indie di luar sana, sedikit saja yang pernah saya tonton, sepuluh yang saya anggap patut dibagi adalah:
Reservoir Dogs (1992)
Sebuah debut yang epic dari Quentin Tarantino, saya pikir semua hal yang ada di film ini tidak biasa digunakan dalam produksi film biasa. Keberhasilan film inilah yang kemudian membawa Tarantino untuk lebih berani menjadi dirinya sendiri saat diberi kepercayaan oleh studio besar. Semua ciri khas Tarantino dimulai dari sini.
The Blair Witch Project (1999)
Bagaimana membuat sebuah film horor yang bagus tanpa harus menakut-nakuti penonton dengan sosok mengerikan atau darah di mana-mana? Kirim beberapa orang ke hutan untuk mencari hantu, beri mereka kamera tapi jangan beri mereka alat komunikasi.
Memento (2000)
Kalau kamu bertemu seseorang dengan kamera polaroid dan tattoo catatan-catatan aneh beserta waktunya, kamu mungkin sedang dalam Memento. Orang tadi adalah Leonard Shelby, seorang detektif yang kehilangan kemampuan untuk mengingat apa yang telah dilewatinya, Shelby sedang memburu pembunuh istrinya. Di Memento, Christopher Nolan membuat semuanya jungkir balik, baik jalan cerita film itu sendiri sampai dengan kita para penonton. Buat saya, ini masih film terbaiknya Nolan.
The Texas Chainsaw Massacre (1974)
Jangan pernah makan sembarangan ketika kamu sedang ada dalam perjalanan jauh, pun makanannya luar biasa enak kamu tidak akan tahu bagaimana masakan itu dibuat, atau dari apa! Film yang dibuat ulang di 2003 ini menceritakan tentang seorang kanibal yang memotong-motong tubuh mangsanya dengan sebuah gergaji mesin, dan dia senang sekali berbagi dengan orang-orang yang lewat di sekitar rumahnya. Walaupun remakenya tidak sebagus versi asli, tapi di 2006 ada prekuel yang menurut saya cukup bagus untuk melengkapi film yang disutradarai Tobe Hooper ini.
Being John Malkovich (1999)
Sesekali kita ingin masuk ke kepala seseorang dan mengetahui isi serta bagaimana orang tersebut melihat dunia, atau saya saja yang merasa seperti itu? Tapi kalau kamu termasuk yang mempunyai keinginan seperti itu, film betul-betul memvisualisasikannya. Sutradara yang sering terlibat project pembuatan dokumenter atau video clip musisi-musisi besar macam Weezer dan Bjork, Spike Jonze, membawa kita menuju kepala seorang aktor bernama John Malkovich.
Lost in Translation (2003)
Sofia Coppola bukan hanya anak dari sang pembuat trilogi Godfather, tapi juga seorang penyampai yang brilian. Setidaknya untuk sebuah cerita cinta modern seperti film ini. Bill Murray bermain sebagai Bob Harris, seorang aktor yang merasa kehidupan selebritinya hampa. Bob mengunjungi Jepang untuk sebuah rangkaian acara keartisan dan pertemuan dengan seorang hipster cantik yang menawarkan cinta tidak biasa.
Juno (2007)
Jangan menyepelekan Juno, gadis ini punya pemikiran yang jauh lebih dewasa daripada kelihatannya. Si cantik Ellen Page bermain brilian sebagai Juno, tapi banyak-banyak pujian patut kita persembahkan untuk sang penulis naskah Diablo Cody. Kalau umur kamu diatas 30 dan ragu menonton film ini karena kemasannya yang sangat remaja, pikir ulang!
Sex, Lies and Videotape (1989)
Sebuah debut dari Steven Soderbergh yang berhasil menyiksa para penonton dan kritikus di Sundance dan memboyong Palme D’Or dari Cannes. Kisah cinta segi tiga antara suami istri dan saudara perempuan sang istri, ditambah kebiasaan aneh teman lama si suami dengan kameravideonya.
The Terminator (1984)
Oh ya, film ini indie. Tidak seperti sekuelnya, James Cameron memilih untuk indie di film ini, dan berhasil. Seorang robot dari masa lalu yang datang untuk membunuh Sarah Connor, dibuat dengan efek visual yang state-of-the-art. Jangan lupa, film ini dikategorikan sebagai film kelas B pada saat itu.
Mean Streets (1973)
Martin Scorsese dan Robert de Niro di Little Italy. anda pasti tahu ini tentang apa, dan jangan lupa film ini dibuat Scorsese secara indie, pasti dengan alasan tertentu bukan?
